Just another WordPress.com site

KONTEKSTUALISASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA


Kontekstualisasi Pembaharuan Pendidikan Islam
Oleh: Drs. EdY Yusuf Nursamsu Santosa, M.Pcr
PENDAHULUAN

Selanjutnya kekuatan kolonial Barat memasuki dan menjajah hampirt semua negara-negara Islam dari Maroko di Afrika utara, India di Asia Tengah sampai Indonesia di Asia Tenggara. Selama beberapa abad, secara umum Pendidikan Muslim mengalami kemerosotan pada periode disintegrasi muslim pasca klasik dan selanjutnya berhadapan dengan hegemoni barat dibidang ekonomi politik dan intelektual.

Kemudian dari pada itu, di tengah kemerosotan dan keterbelakangan pendidikan Islam, wawasan pendidikan menjadi semakin sempit, pendidikan Islam hanya dibatasi pada pengertian teologis, dimana studi matakuliah asing dihilangkan dan, bahkan, sangat dicurighai. Pendidikan Islam hanya membahas pada tema-tema atau pelajaran keagamaan tradisional yang hanya memenuhi kebutuhan praktis keagaman dan kehidupan keluarga

Memasuki era modern pada awal abad 19, perbenturan ideologis antar dunia barat yang mapan dan maju dengan dunia timur yang diwakili oleh Islam yang saat tersebut – hinga kini—sedang mencari identitasnya semakin menguat. Hampir seluruh dunia Islam ada dalam cengkraman penjajahan negara-negara barat. Dalam masa penjajahan barat ini, dunia Islam merasakan secara langsung dampak dari tekanan politik, ekonomi, budaya dan pengaruh pendidikan barat. Tak lepas seperti negara India yang menjadi jajahan negara Inggris. Secara langsung umat Islam India merasakan semua dampak diatas yang datangnya dari kolonial Inggris .

Untuk tetap eksis dan dapat mengikuti perkembangan zaman modern. Umat Islam harus menentukan pilihannya. Di tengah-tengah kebimbangan dalam menentukan sikap yang harus diambil muncullah Ahmad Khan di tengah-tengah mereka. Dengan pandangannya yang rasional dan positif, ia mencoba mengajak umat Islam untuk mau menerima dan mengikuti pendidikan Inggris, tanpa diliputi rasa takut atas kegoncangan iman dan kerusakan akhlak mereka.

Kesediaan untuk menerima dan mengikuti pendidikan Inggris adalah satu-satunya pilihan yang harus ditempuh. Sebab menurut Akhmad itulah satu-satunya cara bagi umat Islam untuk mencapai kemajuan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa bangsa Inggris menjadi bangsa yang maju dan dapat menguasai India karena mereka memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan .

Ajakan Ahmad Khan tersebut berdasarkan pada pengalaman sejarah bahwa umat Islam pernah mengalami masa kejayaan karena jiwa besar masyarakat Islam dalam menghadapi kebudayaan waktu itu. Yaitu keberanian-keberanian masyarakat Islam dalam mempelajari karya-karya ilmiah dan filosofis bagsa Yunani serta berusaha menerjemahkan karya-karya ilmiah tersebut dalam bahasa arab, tanpa takut akan pengaruh negatifnya, dalam hal ini Ahmad Khan berkata:

“Wajiblah kita mempelajari kitab-kitab ilmu pengetahuan barat, meskipun  pengarangnya bukan umat Islam dan didalamnya ada yang menyalahi al-Qur’an suci. Kita harus meniru bangsa Arab zaman dahulu, yang tidak takut akan kehilangan imannya karena mempelajari kitab Pythagoras .

Keberanian orang Arab untuk mempelajari kitab Pythagoras sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Khan di atas, atau istilah yang dipakai oleh Rusli Karim; kemampuan mensintesakan aspek-aspek positif kebudayaan barat yang dilakukan oleh umat Islam zaman dahulu itulah yang telah melahirkan progresivitas dan vitalitas kebudayaan Islam yang selanjutnya mengantarkan pendidikan Islam dapat melahirkan para pakar ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Apa yang dilakukan oleh Ahmad Khan menunjukkan bahwa ia adalah seorang intelektual muslim sejati. Ini dapat terlihat dari sikapnya yang terbuka terhadap hal dari luar, ia bersedia mendengarkan segala hal diluar komunitasnya (islam), ia tidak cepat apriori terhadap pengaruh tersebut sebagaimana para ahli agama waktu itu, namun ia pikirkan pengaruh itu dan ia mengambil kesimpulan bahwa yang diajarkan inggris mengenai ilmu pengetahuan dan tehnologi harus dipelajari dan dikuasai oleh umat Islam.

Hal lain yang menunjukkan keintelektualannya adalah ia tidak mengisolir diri dalam tempurung primordialisme. Ia tidak lebur dalam satu keyakinan aliran agama dan menjauhkan diri dari perbenturan fikiran. Ia berani berbenturan pikir dengan Inggris dan juga umat Islam mainsterm saat itu yang berbeda pandangan dengannya.

Karakteristik yang penting adalah kejujuran dan kesetiaan pada cita-citanya untuk membangun India setarap dengan bangsa-bangsa lain di Dunia dengan mendirikan lembaga pendidikan Aligarth College sebagai basis kaderisasi anak bangsa dimasa mendatang.
BIOGRAFI AKHMAD KHAN

Ahmad Khan lahir tanggal 6 Dzulhijjah 1232 Hijriyah atau 17 Oktober 1817 Masehidi kota Delhi. Ia biasa dipanggil dengan Sir Sayyid. Sebutan Sir ia dapatkan  dari bangsa Inggris atas jasa-jasanya terhadap Inggris. Sedangkan sebutan Sayyid karena ia masih keturunan langsung nabi Muhammad SAW. Ia merupakan keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah.

Masa hidupnya yang relatif panjang, sekitar delapan puluh tahunnan secara garis besar dapat dibagi menjadi empat periode. Pertama, masa pendidikan (1817-1837). Kedua, masa pengabdiannya menjadi pegawai peradilan (1838-1857). Ketiga, masa minatnya terhada kesejahteraan umum. Kehususnya dalam mengembangkan bidang pendidikan di negaranya (1858-1877) dan keempat, masa terpenting dalam hidupnya (1878-1877) dimana ia mendapat reputasi sebagai pemimpin politik dan pendidikan Islam terbesar selama abad XIX .

Ahmad Khan mendapat pendidikan formal pertama kali disebuah maktab (mungkin kalau di Indonesia semacam madrasah diniyah), yaitu lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu agama. Di Maktab ini ia belajar bahasa Parsi, bahasa ‘ beradab” bagi muslim India pada waktu itu, dan juga berhitung

Boleh dibilang pendidikan formal yang diperolehnya pada waktu ia kecil tidaklah demikian mendalam dan sistematis. Ia lebih banyak mendapat bimbingan dari ibunya, seorang wanita yang bijaksana, yang mengasuhnya dengan sungguh-sunguh, sehingga ia memperoleh pengetahuan yang cukup tentang beberapa ilmu pengatahuan yang biasa diajarkan dimadrasah-madarasah muslim pada waktu itu.  Selain itu, ia seorang anak yang sangat rajin membaca berbagai ilmu pengetahuan. Dan ditambah pengetahuannya tentang masalah-masalah kenegaraan (ilmu pemerintahan). Pengenalannya dengan kebudayaan barat diperolenya dari sang kakek dari pihak ibu, Khawaja Fariduddin, yang pernah menjadi Perdana menteri di Istana Mughal masa Sultan Akbar II selama delapan tahun.

Pada tahun 1837, setahun setelah ayahandanya meninggal dunia, ia bekerja di istana mughal masa sultan Bahadur Shah sebagai seorang pembaca. Ahmad muda banyak dianugerahi titel dan jabatan kakekny, akan tetapi ia menolak anugerah tersebut. Ia lebih memilih bekerja untuk Inggris.

Pada awalnya ia bekerja di The East India Company, kemudian dipindahkan kebagian Criminal Departmen di bagian New Delhi. Pada tahun 1846, setelah lima tahun bekerja sebagai musnif di Fatihpur Sikri distrik Agra, ia dipindahkan ke Delhi, kota kelahirannya .

Pada tanggal 10 Mei 1857, ketika terjadi pemberontakan terhadap kolonial inggris, saat itu ia berada di daerah Bignapur, sebagai seorang pegawai peradilan. Ia tidak ikut memberontak, bahkan ia banyak membantu melepaskan orang-orang Inggris yang teraniaya dalam pemberontakan tersebut. Karena jasa-jasanya itulah ia di beri gelar Sir oleh Inggris.

Ahmad Khan mengajar umat Islam untuk bersikap damai dan bekerja sama dengan Inggris, karena disamping akan membawa kemajuan, peningkatan taraf hidup dan stataus sosial mereka, juga dengan harapan Inggris memperbolehkan umat Islam memiliki perguruan tingginya sendiri.

Pada tahun 1869, bersamaan dengan kepergian anaknya ke Inggris untuk melanjutkan studinya.ia juga pergi ke Inggris. Kepergiannya ini adalah semata-mata untuk memenuhi keingintahuannya yang sudah lama yaitu mempelajari sendiri sumber-sumber kekuatan Inggris, dengan harapan dapat mewujudkan cita-citanya menciptakan negara India yang kuat dan makmur, dapat mengikuti perkembangan zaman moderen serta dapat menduduki tempat mulia dalam masyarakat dunia.

Sekembalinya dari Inggris, ia merasa mendapat kekuatan baru yang lebih meyakinkan anggapannya bahwa selama ini ketertinggalan India dari bangsa barat adalah karena faktor mental, Inggris memiliki mental yang kuat dalam segala hal. Dan untuk merubah mental masyarakat India harus dilakukan revolusi pemikiran dengan meninggalkan ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan lama dan menerima tuntutan zaman modern. Bersamaan dengan itu ia mulai merintis berdirinya perguruan tinggi Islam modern.

Cita cita Ahmad Khan untuk mendirikan perguruan tingi akhirnya terwujud dengan diletakkannya batu pertama pembangunan gedung perguruan tinggi tersebut oleh Gubernur Jendral Lord Lotion  (raja muda waktu itu) pada tanggal 8 Januari 1877 di kota Aligarth. Perguruan tinggi tersebut diberi nama Muhammadan Anglo Oriental College, yang lebih dikeal dengan Aligarth College

Masa-masa akhir hayatnya digunakan untuk mewujudkan Aligarth College yang didirikannya itu. Ia berkeinginan Aligarth dapat meningkat menjadi universitas, sebagaimana yang di cita-citakan sejak kepergiannya ke Inggris. Dalam mewujudkan keinginannya tersebut ia habiskan delapan jam sehari untuk menegembangkan Aligarth College. Akan tetapi keinginannya untuk menjadikan Aligarth sebagai universitas belum tercapai ajal telah merenggutnya pada usia 81 tahun. Seluruh India berkabung, dan umat Islam kehilangan seorang tokoh besar yang selama hidupnya digunakan untuk memajukan bangsanya.

Ahmad Khan telah tiada, namun sampai kini gagasan-gagasannya masih banyak diualas oleh akademisi dan para ilmuan. Pandangan yang sangat mendasar dari Akhmad Khan adalah tentang keterbelakangan masayarakat muslim India. Menurut analisanya umat Islam di India sangat terbelakang bila dibandingkan dengan peradaban barat karena ia tidak mampu menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi. Diakibat oleh kejumudan pemikiran umat islam pasca abad pertengahan, sehingga untuk melawan keterbelakangan maka yang harus dilakukan umat Islam adalah menghidupkan dan mengembangkan kembali pemikiran rasional agama zaman klasik, dengan perhatian yang besar pada sain dan tehnologi.
KONDISI PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA ABAD XIX

Di India pendidikan modern yang dibawa oleh Inggris pada awal abad ke 19 telah meimbulkan dualisme sikap masyarakat muslim. Yaitu sikap antagonis (menolak) dan sikap akomodatif (menerima) . Sikap penolakan ditunjukkan oleh sebagian besar umat Islam India, teruma para pengelola lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu-ilmu agama an sich. Penolakan tersebut, karena meraka beranggapan apa yang dibawa oleh Inggris tidak cocok  diikuti umat islam, sebab pendidikan modern Inggris mengabaikan bidang studi dan tradisi keilmuan Islam.

Sebagian lain masyarakat Islam dapat menerima dengan lapang dada sistem pendidikan modern Inggris tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi modern yang dibawa oleh Inggris dan diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan Inggris tersebut merupakan sarana yang dapat membawa kemajuan umat Islam India. Sebab mereka meyadari India sangat ketinggalan jauh dengan Inggris dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Salah satu tokoh yang mendukung sikap ini adalah Ahmad Khan. Ia berpandangan bahwa saat ini umat Islam harus kembali ke teologi sunnatullah dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah seperti pada zaman Islam klasik, dari pada itu ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat dibarat perlu dikuasai oleh umat Islam. Sebab ilmu pengetahuanlah yang akan mampu menghidupkan kembali orientasi keduniaan umat yang telah hilang sejak zaman pertengahan. Untuk mengusai pengetahuan dari barat tiada lain jalan yang ditempuh adalah dengan mengakomodasi pikiran-pikiran modern termasuk pendidikan yang dibawa oleh inggris.

ALIGARTT COLLEGE

Akhmad Khan banyak disebut sebagai seorang reformer (pembaharu) di India, terutama pembaharuan pendidikan (educational reformer). Statemen ini tepat untuk menggambarkan perjuangan Akhmad Khan. Ia menghabiskan seluruh tenaga dan hampir separuh umurnya guna mengembangkan dunia pendidikan di India. Apa yang dilakukannya dalam memperjuangkan kemajuan umat Islam melalui pendidikan mengisyaratkan perilaku seorang pembaharu, sebagaimana dinyatakan oleh Muhammad Abduh, bahwa pertama kali yang harus dilakukan oleh seorang pembaharu adalah mendidik rakyatnya dan kemudian berusaha mendapatkan kemerdekaan

Keseriusannya dalam mengembangkan pendidikan di India nampak dari pengorbanannya yang besar, pada usai yang hampir senja (52 tahun), Ahmad Khan masih menyempatkan diri pergi ke Inggris untuk mempelajari sistem pendidikan modern. Bahkan untuk biaya studi itu ia telah menggadaikan rumahnya dan menjual gedung perpustakaan pribadi beserta seluruh isinya. Namun perjuangannya itu tidak sia-sia, pengorbanannya telah menghasilkan sebuah perguran tinggi Islam di India dengan sistem pendidikan modern, Aligarth College.

Alighar College adalah. Karya besar Akhmad Khan dalam bidang pendidikan. Aligarth merupakan lembaga pendidikan Islam moderen yang dikembangkan olehnya dari hasil studi panjangnya di Inggris.  Sistem pendidikannya berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang ada pada waktu itu. Perbedaan tersebut nampak dalam hal materi dan tujuan pendidikan.

Dari segi materi Aligarth memasukkan pengetahuan umum (ilmu pengetahuan umum dan tehnologi) dalam pembelajarannya, padahal pada era tersebut India sama sekali tidak memiliki satu lembaga pendidikan Islam yang memasukkan ilmu-ilmu umum dalam daftar mata pelajarannya.

Dengan memberikan pelajaran umum ini Ahmad Khan menginginkan hilangnya dikotomi ilmu yang ada pada benak dan pikiran masyarakat Islam India. Terlihat dari penyusunan cabang ilmu pegetahuan yang diajarkan di Aligarth. Dalam susunan itu ilmu-ilmu agama dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, bukan menjadi cabang tersendiri yang terpisah dari ilmu pengetahuan yang lain. Akhmad Khan tidak menginginkan adanya keterpisahan ilmu pengetahuan dalam pandangan umat Islam India.

Dari sudut tujuan, Aligarth College memiliki tujuan yang bebeda dengan lembaga pendidikan Islam mainstrem. Ia memiliki tujuan membentuk ulama intelek, yaitu orang yang memiliki keahlian dalam bidang pengetahuan agama dan juga mahir dalam ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian diharapkan lulusan Aligarth College memiliki intelegensia yang tinggi dan adaptif dengan perkembangan zaman dan peradaban modern dengan kepribadian muslim.

Perbedaan dengan lembaga pendidikan Islam mainstrem terlihat dari penambahan ilmu pengetahuan umum yang pada era ini sama sekali tidak tersentuh oleh lembaga pendidikan Islam yang lain.
Konteks Pembaharuan Pendidikan di Indonesia

Kemunduran umat Islam sebagian besar dikaenakan tertinggalnya ia dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi, Menurut para pakar terdapat suatu korelasi pengusaan ilmu pengetahuan dan tehnologi dengan kekuatan poltik dan ekonomi. Masyarakat Islam selalu kalah dalam politik da ekonomi diantaranya karena umat Islam tidak dapat mengusai dan melakukan peneyebaran ilmu pengetahuan dan tehnoogi. Lebih lanjut, didalam kehidupan politik dan ekonomi kita lihat adanya fase-fase perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmupengetahuan dan tehnologi. Fase-fase tersebut ialah fase perbudakan, feodaisme, industrialisasi, dan masa depan ialah era ilmu pengetahuan. Era ilmu pengetahuan berarti semakin luas penyebaran dan kontrol ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Hal ini berarti suatu masyarakat atau bangsa yang tidak menguasai dan mengontrol ilmu pengetahuan berarti akan kehilangan kekuatan politik dan ekonominya. Masyarakat masadepan adalah masyrakat yang berkembang atas dasar penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Apabila ilmu pengetahuan merupakan faktor yang sangat menentukan didalam kehidupan umat manusia masa depan, maka ini artinya lembaga-lembaga pendidikan haruslah menyesuaikan diri dengan tuntutan masa depan tersebut. Visi dan misi lembaga pendidikan (islam) harus berubah sebagai tempat untuk mempersiapkan sumberdaya manusia masa depan yang menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya, serta memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup manusia.

Kesadaran sebagaimana diatas dalam kontek India telah melahirkan pembaharuan pendidikan yang dipelopori oleh Ahmad Khan pada paruh akhir abad ke 19 dengan Aligarth Collegenya. Ide pembaharuan pendidikan tersebut tersebar luas seantero dunia muslim, termasuk Indonesia.

Maka bermunculanlah moderenisasi pendidikan Islam di Indonesia dengan berbagai bentuknya. Kemunculannya tersebut berkaitan erat dengan pertumbuhan gagasan moderenisme Islam dikawasan asia. Gagasan moderenisme Islam yang menemukan momentumnya sejak awal abad 20, pada lapangan pendidikan direalisasikan dengan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan modern yang diadopsi dari sistem pendidikan kolonial Belanda. Pemrakarsa pertama dalam hal ini adalah organisasi-organisasi “Moderenis” Islam seperti Jami’at Al-Khoir,al-Irsyad, Muhammadiyah dan lain-lain.

Pada awal perkembangan adopsi gagasan moderenisasi pendidikan Islam ini setidak-tidaknya terdapat dua kecenderungan pokok dalam eksperimentasi organisasi-organisasi Islam di atas. Pertama adalah adopsi sistem  dan lembaga pendidikan modern secara hampir menyeluruh. Titik tolak moderenisme pendidikan Islam disini adalah sistem dan kelembagaan pendidikan modern (Belanda), bukan sistem dan lembaga pendidikan Islam tradisional.

Eksperimentasi ini terlihat secara jelas dilakukan oleh Abdullah Ahmad dengan Madrasah Adabiyah, yang kemudian diubah menjadi Sekolah Adabiyah (1915). Hanya terdapat sedikit ciri atau unsur kurikulum sekolah (HIS) Adabiyah yang membedakannya dengan sekolah belanda. Selain mengadopsi seluruh kurikulum HIS Belanda, sekolah Adabiyah menambahkan pelajaran agama 2 jan sepekan.

Kemudian organisasi Islam yang lain adalah Muhammadiyah. Ia mengadopsi sistem kelembagaan pendidikan Belanda secara cukup konsisten dan menyeluruh, misalnya mendirikan sekolah-sekolah ala belanda sepeti MULO, HIS dan lain-lain. Sementara itu sekolah-sekolah Muhammadiyah membedakan diri dengan sekolah belanda hanya dengan memasukkan pendidikan agama (persisnya dalam istilah Muhammadiyah adalah Met de Qur’an) kedalam kurikulumnya. Karena itu sekolah-sekolah Muhammadiyah sebenarnya lebih tepat disebut  sekolah umum plus.

Muhammdiyah dalam batas tertentu juga mencoba bereksperimen dengan sistem dan kelembagaan madrasah modern dengan mendirikan madrasah Mu’alimin dan madrasah Mu’alimat. Tetapi sama dengan sistem dan kelembagaan sekolah-sekolahnya, madrasah yang dikembangkan Muhammadiyah ini tidaklah menjadikan sistem dan kelembagaan pendidikan Islam tradisional – apakah surau atau pesantren—sebagai basisnya.

Kedua, eksperimen pembaharuan yang bertitik tolak justru dari sistem pendidikan  Islam  itu sendiri. Disini lembaga pendidikan Islam yang sebenarnya telah ada sejak waktu lama di moderenisasi; sistem pendidikan madrasah dan surau, pondok pesantren, yang memang secara tradisional  merupakan kelembagaan pendidikan Islam di moderenisasi misalnya dengan mengadopsi aspek-aspek tertentu dari sistem pendidikan modern, khususunya dalam kandungan kurikulum, tehnik dan metode mengajar dan sebagainya

Eksperimen semacam ini pertama kali dilakukan Pesantren Manbaul Ulum, Surakarta tahun 1906. Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren ini mempunyai basis pada pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu tradisional Islam, seperti al-Qur’an, hadits, Fiqh, bahasa Arab dan lainya. Juga terdapat mata pelajaran mantiq, aljbar, dan ilmu falaq. Selain itu Pesantren Manbail Ulum juga memasukkan beberapa mata pelajaran modern ke dalam kurikulumnya, seperti membaca (huruf latin) dan menghitung.

Eksperimen lain dilakukan oleh H. Abdul Karim Amrullah yang pada tahun 1916 menjadikan surau Jembatan Besi – lembaga pendidikan islam tradisional— sebagai basis untuk pngembangan madrasah modern, yang kemudian lebih dikenal dengan Sumatra Thawalib. Berbarangan dengan itu, Zainuddin Labay al Yunusi mengembangkan Madrasan Diniyah, yang pada awal perkembangannya merupakan “madrasah sore” untuk memberikan pelajaran agama pada murid-murid sekolah Gubernemen.

Upaya menjadikan sistem dan lembaga pendidikan pesantren sebagai basis dalam pengembangan sistem dan kelambagaan pendidikan Islam pada era lebih belakang (1926) kembali dilakukan di Pulau Jawa dengan pembentukan Pndok Modern Gontor Ponorogo. Gagasan yang berbeda di belakang pembentukan Pondok Moden adalah kesadaran perlunya moderenisasi sistem dan kelembagaan pendidikan Islam tidak dengan mengadopsi sistem dan kelembagaan pendidikan modern Belanda, melainkan dengan malakukan moderenisasi sistem dan kelembagaan pendidikan idegenous, pesantren. Ini dilakukan karena pesantrenlah yang memilki akar kuat dan mendalam  dan lebih dapat diterima oleh banyak masyarakat muslim .

Demikian pola pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia sebagian besar memiliki kesamaan dengan pembaruan pendidikan Islam di India abad ke 19 yang dipelopori Akhmad Khan baik motif maupun tujuannya.
* Penulis adalah Dosen Fakultas Trabiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat ini sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana (S2) Magister Perdamaian dan Resosulusi Konflik Universitas Garahmada (UGM) dan Pascasarjana Magister Managemen (MM) Universitas Islam Indonesia (UII), saat ini sedang menyelesaikan program Doktor Ilmu  Ekonomi di UII.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Jamil, Seratus Muslim Terkemuka, Terjemahan Tim Peneremah Pustaka Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993
Ali, HA. Mukti , Aliran Pemikiran Modern dalam Islam di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993
¬¬¬¬______, Alam Pikiran Modern di Timur Tengah, Jakarta: Djambatan, 1995.
Azra , Azyumardi,  Pendidikan Islam; Tradisi dan Moderenitas menuju Millenium Baru. Jakarta; Logos; 1999
Depag, Ensiklopedi Islam di Indonesia” Jakarta, Anda Utama, 1993,
Bakar, Osman, Tauhid dan sains. Terjemahan Yuliani Lipuro, Bandnung. Pustaka Hidayah, 1994
Baljon, J.M.S. Sayyid Akhmad Khan Seorang Islam Modern dan Pembaharu Sosial, terjemahan Amal Hamzah, Jakarta: Djaur Gatan, 1950
Bilgrami , HH. dan SA. Asyraf, Konsep Universitas Islam, terjemahan Machsun Husain, Yogykarta; Tiara Wacana, 1998.
Gibb H.A.R dan J.H. Kramera (ed). Sortar ensiklopedia of Islam, Lieden: Erill, 1961
Karim, M. Rusli, Hakekat Pendidikan Islam sebagai Upaya Pembebasan Manusia, Dalam A. Busyairi dan A. Sahil. Tantangan Pendidikan Islam, Yogyakarta, LPM UII, 1987.
L. Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan HM. Muljadi Dj. Dkk. Jakarta: Panitia Penerit DEI, 1966.
Mackeen , Mohammad A.M. “Islamic Studiesas a University Discipline”,The Islamic Review & Arab Affair, Mei 1969.
Natsir, Muhammad, Peranan Cendikiawan Muslim, Jakarta; Dewan Dakwah Islam Indonesia, 1978.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s